Sejarah Karoseri Adi Putro

https://otomotif.kompas.com/read/2021/06/27/173100815/bodi-monokok-buatan-adiputro-sudah-hadir-sejak-90-an
https://otomotif.kompas.com/read/2021/06/27/173100815/bodi-monokok-buatan-adiputro-sudah-hadir-sejak-90-an
Adi Putro: Kisah “Si Kuda Hitam” dari Malang yang Kini Menjadi Raja Jalanan Indonesia
Siapa sih yang nggak kenal sama bus-bus dengan emblem “Jetbus”? Mau kamu lagi mudik lewat Pantura, jalan-jalan ke Bali, atau sekadar lihat bus pariwisata lewat di depan rumah, nama Adi Putro pasti hampir selalu ada di sana.
Tapi, tahukah kamu kalau karoseri raksasa ini nggak langsung besar begitu saja? Ibarat prajurit di gambar atas yang harus latihan keras sebelum maju ke medan perang, Adi Putro memulai perjalanannya dari sebuah bengkel kecil di Malang dengan modal tekad dan kualitas yang tak bisa ditawar.
1. Berawal dari Tiga Bersaudara (1973)
Semua bermula pada tahun 1973 di Malang, Jawa Timur. Saat itu, tiga bersaudara dari keluarga Jethrokusumo (Andreas, Jesse, dan David) melihat peluang besar di dunia transportasi. Mereka mulai memodifikasi mobil-mobil niaga ringan, seperti Mitsubishi Colt, untuk dijadikan angkutan penumpang.
Awalnya, mereka belum bikin bus besar. Mereka lebih banyak menangani kendaraan jenis minibus atau mikrobus. Namun, sejak awal, prinsip mereka sudah jelas: kualitas pengerjaan harus rapi. Kerapihan inilah yang membuat nama mereka cepat menyebar dari mulut ke mulut di kalangan pengusaha transportasi Jawa Timur.
2. Era Ekspansi dan Kelahiran Pabrik Modern (1980-an)
Memasuki tahun 1982, permintaan semakin membludak. Fasilitas bengkel lama sudah nggak sanggup menampung orderan. Akhirnya, mereka membangun pabrik yang lebih luas di daerah Arjosari, Malang—yang sampai sekarang masih menjadi “markas besar” mereka.
Di masa ini, Adi Putro mulai berani bermain di segmen bus besar. Mereka sadar bahwa masa depan transportasi Indonesia ada di bus antarkota. Dengan investasi pada mesin-mesin modern, Adi Putro mulai menetapkan standar baru dalam hal kenyamanan kabin dan ketahanan bodi.
3. Kolaborasi dengan Jerman: Titik Balik Menjadi Legenda
Tahun 1994 adalah tahun yang sangat krusial bagi sejarah Adi Putro. Mereka menjalin kerja sama dengan Kässbohrer (Setra) dari Jerman. Setra adalah salah satu produsen bus paling bergengsi di dunia.
Melalui kolaborasi ini, para teknisi Adi Putro belajar langsung standar teknologi Eropa. Hasilnya? Lahirlah model-model legendaris seperti Royal Travego dan Setra versi Indonesia. Inilah momen di mana Adi Putro mulai dianggap sebagai karoseri kelas “premium”. Bus buatan Adi Putro dikenal nggak gampang “kriyet-kriyet” (berisik) dan punya detail interior yang mewah.
4. Revolusi Jetbus: Nama yang Salah Kaprah tapi Ikonik
Masuk ke era 2010-an, Adi Putro melakukan sebuah langkah jenius (yang juga unik). Mereka merilis lini bodi bernama Jetbus. Lucunya, banyak orang mengira “Jetbus” itu singkatan dari mesin jet atau bodi yang super cepat.
Padahal, “Jetbus” sebenarnya adalah singkatan dari “Jethrokusumo Bus”, yang merujuk pada nama keluarga pendiri. Nama ini meledak di pasaran! Mulai dari Jetbus 1, Jetbus 2, Jetbus 3 (dengan model HDD, SHD, hingga Double Decker), sampai yang terbaru Jetbus 5 yang rilis di GIIAS 2023 lalu.
Saking ikoniknya, banyak karoseri kecil yang mencoba meniru desain “lampu sipit” atau selendang samping khas Jetbus. Di dunia Busmania, punya bus Adi Putro itu ibarat punya “iPhone”-nya dunia bus; bergengsi dan punya nilai jual kembali yang sangat tinggi.
5. Kenapa Adi Putro Begitu Dicintai?
Sama seperti formasi pasukan Romawi yang tangguh karena setiap bagiannya solid, Adi Putro punya keunggulan di beberapa aspek:
  • Akurasi Desain: Mereka selalu jadi trendsetter. Apa yang dipakai Adi Putro, biasanya bakal jadi tren nasional.
  • Aftersales: Sparepart bodi Adi Putro gampang dicari, bahkan sampai ke lampu-lampu kecilnya.
  • Resale Value: Bus bekas Adi Putro biasanya laku lebih mahal dibanding karoseri lain karena kepercayaan pasar pada kekuatan sasis dan bodinya.
6. Menghadapi Tantangan Masa Depan
Sekarang, Adi Putro nggak cuma bicara soal mesin diesel. Mereka sudah mulai merambah ke dunia Bus Listrik. Dalam ajang pameran otomotif terbaru, mereka sudah memamerkan prototipe bus listrik yang futuristik. Mereka sadar bahwa “medan perang” transportasi akan berubah menjadi lebih hijau, dan mereka sudah menyiapkan “zirah” baru untuk itu.
Kesimpulan
Perjalanan dari bengkel modifikasi mikrobus di Malang sampai menjadi standar emas perbusan nasional adalah bukti bahwa konsistensi pada kualitas takkan pernah mengkhianati hasil. Adi Putro telah membuktikan bahwa produk lokal bisa punya cita rasa internasional.
Jadi, kalau nanti kamu naik bus dan melihat emblem “Jetbus” di bodinya, ingatlah bahwa ada sejarah panjang dari tiga bersaudara di Malang yang bermimpi besar sejak 1973.

Gimana menurut kalian, sobat Busmania? Apa model Jetbus favorit kalian? Apakah Jetbus 3 SHD yang jangkung atau Jetbus 5 yang terlihat sangat futuristik? Tulis pendapat kalian di kolom komentar ya!